DeepSeek R1 dan Potensi AI terkena Serangan Siber – Pada 27 Januari 2025, startup asal Tiongkok, DeepSeek, secara resmi memperkenalkan model AI terbaru mereka, R1. Model ini dikembangkan untuk menjadi pesaing bagi ChatGPT milik OpenAI serta chatbot AI generatif dari perusahaan teknologi besar seperti Meta, Google, dan Microsoft. Tidak seperti kebanyakan kompetitornya, DeepSeek menggunakan sistem kode sumber terbuka dan dikabarkan hanya membutuhkan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan perusahaan AS dalam melatih model bahasa skala besar mereka.
Baca Juga : Prediksi Ancaman Siber 2025
Ada Apa dengan DeepSeek R1?
Peluncuran DeepSeek berdampak pada penurunan harga saham perusahaan teknologi besar seperti Nvidia dan Broadcom, meskipun kondisi pasar kembali stabil dalam beberapa hari. Hal ini memicu pertanyaan di kalangan pendukung AI berbasis AS yang cenderung lebih mahal, mengenai bagaimana sebuah startup yang belum begitu dikenal mampu mengembangkan platform dengan biaya lebih rendah dan bahkan membukanya sebagai kode sumber terbuka bagi publik.
Sementara itu, sejumlah perusahaan yang mempertimbangkan investasi dalam AI generatif melihat DeepSeek sebagai pilihan menarik karena menawarkan efisiensi biaya tanpa mengorbankan manfaat yang diberikan oleh teknologi serupa yang lebih mahal. Di tengah diskusi mengenai DeepSeek, perhatian juga mulai tertuju pada aspek lain yang semakin menjadi sorotan, yaitu keamanan AI.
Setelah DeepSeek diumumkan, perusahaan terpaksa membatasi pendaftaran layanan mereka akibat terdeteksinya aktivitas mencurigakan. Sebagai respons, DeepSeek berupaya melakukan perbaikan dan terus memantau aktivitas di platform mereka.
Sejak ChatGPT diluncurkan pada November 2022, para pakar keamanan siber telah mengungkapkan kekhawatiran terkait AI, termasuk potensi serangan terhadap teknologi ini serta penyalahgunaan chatbot virtual dan layanan AI oleh kelompok tertentu untuk tujuan berbahaya. Semakin ketatnya persaingan dalam industri AI dan semakin banyaknya model serta layanan baru yang bermunculan, keamanan teknologi ini menjadi perhatian utama bagi para profesional teknologi dan keamanan siber. Para ahli serta pelaku industri meyakini bahwa permasalahan yang dihadapi DeepSeek dan platform AI lainnya merupakan indikasi dari tantangan yang lebih besar di masa depan.
Platform AI Rentan Terhadap Serangan Siber
Setelah peluncurannya dan lonjakan popularitas di App Store, DeepSeek mulai membatasi pendaftaran akibat “serangan berbahaya skala besar” yang menargetkan platform mereka. Meskipun perusahaan tidak memberikan rincian lebih lanjut, serangan tersebut diduga merupakan serangan distributed denial of service (DDoS) yang diperburuk oleh lonjakan perhatian publik terhadap platform tersebut.
Selain serangan DDoS, platform AI seperti DeepSeek juga memiliki risiko terhadap berbagai ancaman lainnya, seperti injeksi data berbahaya, manipulasi model, dan eksploitasi celah keamanan dalam perangkat lunak. Oleh karena itu, langkah-langkah proaktif dalam menjaga keamanan siber menjadi hal yang krusial dalam proses pengembangan dan penerapan teknologi AI.
“Keamanan harus menjadi fokus utama sepanjang siklus pengembangan perangkat lunak, terutama bagi platform yang menangani sejumlah besar data pengguna,” ujar Lewis. “Dengan menerapkan praktik keamanan siber terbaik dan melakukan audit sistem secara berkala, pengembang dapat meminimalkan risiko serta memastikan platform mereka tetap aman dan dapat diandalkan oleh pengguna.”
Secara keseluruhan, insiden yang dialami DeepSeek menjadi pengingat akan tantangan keamanan yang dihadapi oleh platform AI saat ini, serta pentingnya strategi keamanan siber yang proaktif dalam pengembangannya.
Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan iLogo Indonesia, Anda bisa mendapatkan solusi IT lengkap yang sesuai dengan kebutuhan Anda. iLogo Indonesia sebagai mitra terpercaya siap mengintegrasikan semuanya agar bisnis Anda tetap berjalan lancar dan aman.
Hubungi kami sekarang atau kunjungi ilogo.co.id untuk informasi lebih lanjut!




